PENDAHULUAN

 

 

Latar Belakang Masalah

Dalam latar belakang permasalahan ini hendaknya diuraikan URGENSI penanganan permasalahan yang diajukan itu melalaui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkan FAKTA-FAKTA yang mendukung , baik yang berasal dari PENGALAMAN guru selama ini maupun dari KAJIAN PUSTAKA. Dukungan berupa hasil PENELITIAN-PENELITIAN TERDAHULU, apabila ada, juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK itu,

 

 

     Contoh:

 

A.   Latar Belakang Masalah

Masalah pendidikan senantiasa menjadi topik perbincangan yang menarik, baik di kalangan guru, orang tua, lebih lagi di kalangan para pakar pendidikan. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar karena setiap orang berkepentingan dan menginginkan pendidikan yang terbaik bagi siswa, anak atau generasi penerus bangsa ini. Terlebih lagi masalah pendidikan matematika, walaupun saat ini rata-rata nilai US matematika sudah berada di posisi yang lebih baik dari pada mapel  Bahasa Indonesia dan IPA, namun tetap menjadi sorotan  yaitu terutama pada materi-materi yang dianggap sulit oleh siswa.

Materi matematika yang dianggap sulit oleh siswa bukan semata-mata karena benar-benar materi yang sulit, tetapi juga bisa disebabkan oleh proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam pengajaran matematika guru cenderung  mentransfer pengetahuan yang mereka miliki ke dalam pikiran siswa. Siswa sering diposisikan sebagai orang yang “tidak tahu apa-apa” yang hanya menunggu apa yang guru berikan. Sementara ini pembelajaran matematika masih banyak ditemui dalam pembelajarannya terpateri kebiasaan dengan urutan sajian pembelajaran seperti: (1) diajarkan teori-teori (2) diberikan contoh-contoh dan (3) diberikan latihan soal-soal.

Kebiasaan pembelajaran semacam ini menyebabkan guru mendominasi kegiatan belajar mengajar, sementara siswa hanya menjadi pendengar dan pencatat yang baik.  Hasilnya adalah siswa  yang kurang mandiri tidak berani mengemukakan pendapat sendiri, dan selalu meminta bimbingan guru.

Pembelajaran matematika yang berkualitas akan meningkatkan minat belajar siswa yang berimbas pada pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Minat belajar siswa bisa dilihat dari tingkat keaktifan siswa dalam bertanya, berpikir kritis, antusiasme siswa, dan  kreatif mengusahakan kemungkinan berbagai alternatif jawaban untuk memecahkan suatu masalah.

Dalam kenyataannya, siswa di kelas VI MI KHR Ilyas Tanjungrejo, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen mengalami kendala-kendala dalam pembelajaran matematika. Kendala-kendala tersebut antara lain: (1) sulitnya memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika tanpa disertai contoh konkret misalnya dengan pengalaman nyata (2) minat belajar tidak sesuai harapan.

Hal ini dapat kita lihat dari hasil pengamatan minat dan hasil belajar siswa. Dari hasil pengamatan minat belajar mata pelajaran matematika tentang pecahan di kelas VI yang terdiri 20 siswa 9 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan, baru diperoleh siswa yang memiliki minat tinggi hanya 6 siswa.  Dari hasil belajar siswa, baru 6 siswa atau 30% yang mampu mencapai tingkat penguasaan di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Artinya sebagian besar siswa belum mampu memahami konsep matematika tentang pecahan. Hal ini jika dibiarkan tentunya akan menimbulkan kurang maksimalnya nilai mata pelajaran matematika.

Kesenjangan antara pemahaman belajar siswa tentang pecahan serta tuntutan dalam kurikulum 2006 agar siswa dapat tuntas dalam belajar inilah yang mendorong peneliti selaku guru kelas VI untuk merefleksikan hal-hal yang menyimpang kemudian mengidentifikasi masalah yang ada. Hasil identifikasi dalam refleksi tersebut akan ditindaklanjuti dalam kegiatan perbaikan pembelajaran  melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Peneliti meminta bantuan kolaborator untuk mengidentifikasi kekurangan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari hasil diskusi dengan kolaborator terungkap adanya masalah yang terjadi dalam pembelajaran yaitu minat belajar siswa yang belum sesuai harapan.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah tersebut, peneliti mencoba melakukan analisis masalah, berdiskusi dengan teman sejawat dan kolaborator, serta bertanya pada siswa tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari rangkaian proses tersebut, akhirnya dapat diprediksi bahwa faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa adalah:

1.  Guru belum optimal dalam menerapkan variasi model pembelajaran.

2.  Guru kurang mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata.

3.  Guru tidak melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.

4.  Guru kurang mampu menggali potensi dan rasa ingin tahu dalam diri siswa sehingga minat belajar siswa dalam pembelajaran tidak optimal.

Dengan memperhatikan permasalahan tersebut di atas, peneliti memilih alternatif pemecahan masalah melalui penerapan pendekatan Problem Based Learning. Alasan penerapan pendekatan Pembelajaran Problem Based Learning ini dalam pelajaran matematika antara lain:1) mampu membawa siswa secara nyata memahami tentang konsep pecahan berdasarkan masalah yang dialami sehari- hari 2) mampu  membuat siswa lebih aktif berfikir dan menghayati secara nyata berdasarkan fakta yang jelas, sehingga lebih mudah memahaminya, 3) membuat siswa aktif dalam kegiatan belajar, seperti melakukan, mendiskusikan, menganalisis, mengambil kesimpulan dan mampu bersosialisasi dengan teman, 4) dapat memberikan pengalaman yang konkret sehingga akan lebih melekat pada ingatan siswa, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa.

Dari uraian di atas perlu dilakukan perbaikan pembelajaran melalui PTK dengan judulPenerapan model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VI MI KHR Ilyas Tanjungrejo Tahun Pelajaran 2016/2017”

           Sumber: Reni Kurniasih, S. Pd.I Kebumen