“Indonesia memiliki enam persen persediaan air
dunia atau sekitar 21 persen persediaan air di Asia Pasifik.
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan air. Namun
demikian, ketersediaan air bersih setiap tahunnya terus
berkurang, padahal kebutuhan air bersih justru terus meningkat,”
ujarnya dalam pidato pembukaan Final Lomba Karya Ilmiah SMA
Tingkat Nasional 2012, di kantor Pusair, Jl. Ir. H. Djuanda No.
193, Kota Bandung, Selasa (1/5/12).
Ia menyatakan, perkembangan suatu negara sangat
ditentukan oleh kesiapan generasi muda dalam menghadapi era
globalisasi yang dipenuhi kompetensi dan perkembangan di bidang
teknologi. Dengan demikian, generasi muda melalui berbagai
inovasi teknologinya diharapkan mampu mengatasi kerusakan daerah
tangkapan air dan pencemaran lingkungan.
“Kondisi ini diperburuk dengan perubahan iklim
yang mulai terasa dampaknya sejak beberapa tahun terakhir.
Perubahan iklim merupakan tantangan yang sangat serius, kompleks
dan dilematis yang harus dihadapi umar manusia saat ini,”
katanya.
Menurut peserta lomba dari SMAN Sampoerna Akademi
Palembang, Midiriyanto (17) kegiatan seperti ini bagus untuk
mendukung genarasi muda Indonesia, sehingga setiap siswa mampu
membuat beberapa inovasi dalam usaha menyelesaikan masalah yang
ada di sekitarnya.
Ia bersama Sindy Arianty (17), mempresentasikan
penemuannya tentang pengaruh serbuk tulang ikan lele yang bisa
berfungsi sebagai alternatif penjernih air rawa melalui koagulan
alami yang dihasilkan dari serbuk tersebut. Mereka menjelaskan,
serbuk tulang ikan lele tersebut dapat mengikat logam seperti
besi yang terkandung dalam air rawa, menetralisir pH, dan
akhirnya bisa menghasilkan air yang kualitasnya hampir sama
dengan air produksi Perusahaan Daerah Air Minum.
“Selama satu bulan kami melakukan penelitian ini.
Air rawa yang berada di daerah jakabaring Palembang menjadi
sample air untuk penelitian kami. Hasilnya, setelah tulang ikan
lele diserbukan dengan cara direbus selama 30 menit dan dioven
sekitar 1 jam, maka serbuk tersebut dapat menggumpalkan partikel
koloid dari air rawa tersebut,” ujarnya.
Mereka menjelaskan, partikel koloid merupakan zat
yang membuat air rawa tersebut menjadi kotor dan berbau. Namun
demikian, mereka mengakui air hasil penelitiannya ini belum bisa
dikonsumsi, tetapi untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari lainnya,
bisa dipergunakan.
“Latar belakang penelitian ini ialah kami merasa
iba terhadap mayarakat daerah Jakabaring yang sangat kekurangan
air bersih, padahal letak daerahnya sangat dekat dengan PDAM
setempat. Dengan inovasi yang kami buat, diharapkan mampu
menjadi semacam solusi menghasilkan air bersih bagi mayarakat
Jakabaring,” ujar Sindy menegaskan.
Sementara itu, menurut Ketua Pelaksana Acara,
Ratna Hidayat, kegitan tersebut merupakan rangkaian Kolokium
Hasil Litbang Sumber Daya Air 2012 yang bertujuan selain untuk
meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap permasalahan
pengelolaan sumber daya air di Indonesia, juga dalam usaha
melestarikan sumber-sumber air yang ada.
“Lomba kali ini jumlah makalah yang masuk
sebanyak 373 buah dari 185 SMA yang berasal dari 26 provinsi dan
melibatkan 965 siswa. Namun, yang menjadi finalis hanya sembilan
SMA terbaik yang telah melewati seleksi tahap 1 dan 2 oleh tim
penilai dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),” ucapnya.
Sembilan sekolah itu ialah SMA Cakara Buana Depok,
SMAN 4 Kendari, SMAN 6 Yogyakarta, SMAN Sampoerna Akademi
Palembang, SMAN 1 Yogyakarta, SMA Walisongo Gempol Pasuruan,
SMKN 1 Nawangan Pacitan, SMAN 2 Kudus, dan SMAN 3 Semarang.
(CA-02/A-88)***