TIMSS

 

Pelaksanaan Ujian Nasional pada tahun 2021 akan dilakukan oleh siswa yang berada di tengah jenjang sekolah (misalnya kelas 4, 8, 11), sehingga dapat mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Hasil ujian ini tidak digunakan untuk basis seleksi siswa ke jenjang selanjutnya. “Arah kebijakan ini juga mengacu pada praktik baik pada level internasional, seperti PISA dan TIMSS,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.

Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) adalah studi internasional tentang kecenderungan atau arah perkembangan matematika dan sains. Studi ini diselenggarakan oleh International Association for Evaluation of Educational Achievement (IEA), sebuah asosiasi internasional yang menilai prestasi pendidikan. Sejak 1995, TIMSS telah memantau tren prestasi matematika dan sains setiap empat tahun, di kelas empat dan delapan. TIMSS 2019 adalah penilaian yang ketujuh, memberikan tren selama 24 tahun. TIMSS 2019 memulai transisi ke eAssessment, di mana negara-negara dapat menyelenggarakan TIMSS 2019 dalam format elektronik atau kertas.

TIMSS diselenggarakan empat tahun sekali. Tesnya ditujukan kepada siswa kelas 4 SD dan kelas 8 SMP. Kerangka penilaiannya terbagi atas dua dimensi, yaitu dimensi konten dan dimensi kognitif dengan memperhatikan kurikulum yang berlaku di negara bersangkutan. Dimensi konten terdiri dari: 1.Bilangan; 2.Geometri/Pengukuran; 3.Penyajian Data. Sementara dimensi kognitif terdiri dari: 1.Pengetahuan; 2.Penerapan; dan 3.Penalaran.

Ujian Nasional (UN) dan TIMSS memiliki persamaan, yaitu sama-sama menilai kemampuan kognitif pada level pengetahuan dan pemahaman, aplikasi dan penalaran, serta konten atau lingkup materi yang diuji sesuai kurikulum di sekolah. Sedangkan UN dan PISA memiliki perbedaan. PISA menilai kemampuan kognitif mencakup komponen proses dan konten yang diuji mengacu penerapan matematika dalam kehidupan. PISA dan TIMSS menghadirkan soal yang membutuhkan penyelesaian tidak hanya sekadar mengingat (menghafal) namun lebih pada menganalisa dan memecahkan masalah.

TIMSS DAN PISA ACUAN MENDIKBUD

Kemapuan literasi membaca adalah kemampuan siswa untuk memahami dan merenungkan teks untuk mencapai gagasan baru, bukan sekadar membaca. Sedangkan kemampuan matematika ialah kemampuan siswa untuk meremuskan, menggunakan dan menafsirkan matematika untuk berbagai konteks. Lalu untuk kemampuan sains, ialah kemampuan mengaitkan pengetahuan sains dengan isu yang relevan dalam kehidupan.

Pada PISA 2018, survei ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara. Berdasarkan survei ini, diperoleh nilai kemampuan literasi membaca siswa Indonesia sebesar 371. Sedangkan untuk kemampuan matematika sebesar 379 dan kemampuan sains 396. Indonesia berada pada peringkat 10 besar terbawah.

Sedangkan The Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) adalah penilaian internasional untuk pengetahuan matematika dan sains pada siswa kelas 4 dan 8 di seluruh dunia. TIMSS dikembangkan oleh Asosiasi Internasional untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan (IEA) untuk memungkinkan negara-negara yang berpartisipasi untuk membandingkan prestasi pendidikan siswa diseluruh dunia. TIMSS pertama kali dikelola pada tahun 1995 dan dilakukan setiap 4 tahun.

Dasar pengukuran TIMSS matematika dan sains sendiri terdiri dari dua domain, yakni domain isi dan kognitif. Domain isi matematika terdiri dari bilangan, aljabar, geometri, data dan peluang. Sedangkan domain isi sains terdiri atas biologi, kimia, fisika dan ilmu bumi. Untuk domain kognitif, yakni pengetahuan, penerapan dan penalaran. TIMSS 2015 yang baru dipublikasikan Desember 2016 menunjukkan prestasi siswa Indonesia bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor 397.

 

MENGENAL TIMSS UNTUK MATEMATIKA

TIMSS atau yang dikenal dengan The Trends in International Mathematics and Science Study adalah satu bentuk asesmen yang dikembangkan oleh IEA, singkatan dari International Association for The Evaluation of Educational Achievement. IEA bermarkas di Amsterdam, Belanda, dan pemrosesan data dan penelitian dilaksanakan di Hamburg, Jerman. Sementara pusat kajian internasional IEA tentang TIMSS dan PIRLS berlokasi di Boston College Lynch School of Education. IEA telah melakukan kajian komparatif internasional sejak tahun 1959.

TIMSS dan PIRLS mengarahkan negara peserta untuk membuat keputusan berbasis bukti dalam meningkatkan kebijakan pendidikan. Beberapa asumsi yang dapat Pemerintah dan Kementerian ajukan sehingga menggunakan hasil TIMSS dan PIRLS meliputi:

  1. Mengukur keefektifan sistem kependidikan dalam konteks global
  2. Mengidentifikasi kesenjangan dalam sumber belajar dan kesempatan
  3. Menetapkan beberapa wilayah yang lemah dan mendorong perubahan kurikulum
  4. Mengukur dampak dari inisiatif kependidikan baru
  5. Melatih peneliti dan guru dalam penilaian dan evaluasi

TIMSS dan PIRLS juga menyiapkan data tentang faktor-faktor kontekstual yang mempengaruhi pembelajaran, termasuk sumber daya sekolah, sikap siswa, praktek instruksional, dan dukungan di rumah.

Khusus untuk matematika, kerangka kerja TIMSS 2019 diarahkan pada aspek afektif yaitu kegigihan dan ketekunan. Sementara untuk keterampilan meliputi keterampilan pemecahan masalah dan bekerja melalui masalah, selain pemahaman mendalam dari matematika tersebut.

Matematika dalam kehidupan sehari-hari menjadi konsep utama dengan memperkenalkan aktivitas-aktivitas seperti berhitung, memasak, mengelola uang, dan membangun sesuatu. Selain itu, kebutuhan terhadap matematika ditunjukkan oleh berbagai bidang karir seperti teknik, arsitektur, akuntansi, perbankan, bisnis, obat-obatan, ekologi, dan ruang angkasa.